Free Glitter text generatorFree Glitter text generatorFree Glitter text generatorFree Glitter text generatorFree Glitter text generator
Free Glitter text generatorFree Glitter text generatorFree Glitter text generatorFree Glitter text generatorFree Glitter text generatorFree Glitter text generator

Free Glitter Text Generator

Monday, April 4, 2011

Wanita Yang Indah........


Aduhai wanita... Sungguh mahal dirimu di mata lelaki, tetapi mengapa masih ada lagi yang tidak menyedari? Dirimu sungguh agung di mata lelaki dan terlalu mulia di sisi Penciptamu. Namun itu semua hanya jika kau tahu mengagungkan dan memuliakan dirimu sendiri.
Menjadi wanita adalah satu anugerah yang paling indah. Seharum mana pun wangian kasturi tidak mampu menandingi wangian budi pekertimu, lembutnya gumpalan kapas masih tewas dek kelembutan tingkahmu. Halusnya butiran pasir yang menjadi peneman setia si pantai masih tidak dapat menandingi halusnya tuturmu.
Duhai wanita... Sebenarnya maruah diri yang kau galas lebih berat daripada bongkah-bongkah batu yang besar. Kau menepis dengan penuh sabar setiap godaan nafsu dunia yang datang bertubi-tubi hingga hampir mengheretmu ke kancah yang penuh onak duri. Percayalah wanita, akan ada bahagia di akhir kesengsaraanmu asal saja kesabaran menjadi bentengmu.
Wanita ku... Terima sahaja cemuhan dan makian yang muncul bederu -deru ibarat halilintar yang singgah di cupingmu, terima saja itu dengan senyuman dan ambil saja sebagai halwa telinga yang mengajarkan mu erti kesabaran. Itu sebenarnya dendangan sumbang dari bibir-bibir sumbing yang ingin melihat mu tersungkur. Percayalah akan ada berita manis yang singgah dicupingmu suatu masa nanti asal saja gunung kesabaranmu tidak pernah kau tarah.
Saudara wanitaku, iman mu adalah perisai, agamamu adalah landasanmu di setiap langkah yang kau atur. Jangan sesekali kau biarkan anasir songsang memperkotak-katikkan imanmu apatah lagi agama yang kau kandung hanya kerana nikmat duniawi semata-mata. Jangan kau gadaikan maruahmu yang tidak ada galang gantinya hanya kerana mengejar sesuatu yang tidak mungkin bisa kau kendong.
Andai kata kau tersungkur, segeralah bangkit dan sekiranya kau tersasar jauh dari landasan hidupmu, atur kembali langkahmu bersama titipan iman dan mulakan dengan langkah yang baru. Sedangkan Sang Jentayu yang kepatahan sayapnya masih bisa hidup bertongkat paruh apatah lagi kau yang dianugerahkan akal fikiran. Jangan bersedih wahai wanita, andai apa yang kau ingini tidak kau beroleh di dunia, percayalah syurga itu sentiasa menantimu.
Bulatnya iman dan taqwa Sumaiyah ketika dihunuskan tombak ditubuhnya, demikian jugalah bulat imanmu harus kepada Penciptamu. Peganglah kata kata ini, "Kau sebenarnya tidak akan tersasar seandainya keimananmu kau jadikan sebagai tunjang dalam kehidupan".
Wanita, biar tawadukmu lebih menggungung daripada kejelitaanmu, biar keayuanmu terpancar dek kerana lemah gemalainya perilaku. Biar kebijaksanaanmu terpampang oleh tingginya ilmumu. Jangan sesaat pun kau lupa setianya Masyitah pada Tuhannya, agungnya kasihKhadijah kepada agamanya dan perjuangan srikandi-srikandi agama terdahulu.
Jadikan agamamu sebagai tunjang yang memperkasakan akidahmu.Biar kesabaranmu menjadi benteng perjuanganmu dan lebarkan imanmu dengan sejuta lapis sifat mahmudah. Jadilah kita wanita paling bahagia.

Titipan Buat Wanita...........


"Sebaik-baik wanita ialah yang tidak memandang dan tidak dipandang oleh lelaki."
Aku tidak ingin dipandang cantik oleh lelaki. Biarlah aku hanya cantik di matamu. Apa gunanya aku menjadi perhatian lelaki andai murka Allah ada di situ.
Apalah gunanya aku menjadi idaman banyak lelaki sedangkan aku hanya bisa menjadi milikmu seorang.
Aku tidak merasa bangga menjadi rebutan lelaki bahkan aku merasa terhina diperlakukan sebegitu seolah-olah aku ini barang yang bisa dimiliki sesuka hati.
Aku juga tidak mau menjadi penyebab kejatuhan seorang lelaki yang dikecewakan lantaran terlalu mengharapkan sesuatu yang tidak dapat aku berikan.
Bagaimana akan kujawab di hadapan Allah kelak andai ditanya? Adakah itu sumbanganku kepada manusia selama hidup di muka bumi?
Kalau aku tidak ingin kau memandang perempuan lain, aku dululah yang perlu menundukkan pandanganku. Aku harus memperbaiki dan menghias peribadiku karena itulah yang dituntut oleh Allah.
Kalau aku ingin lelaki yang baik menjadi suamiku, aku juga perlu menjadi perempuan yang baik. Bukankah Allah telah menjanjikan perempuan yang baik itu untuk lelaki yang baik?
Tidak kunafikan sebagai remaja, aku memiliki perasaan untuk menyayangi dan disayangi. Namun setiap kali perasaan itu datang, setiap kali itulah aku mengingatkan diriku bahwa aku perlu menjaga perasaan itu karena ia semata-mata untukmu.
Allah telah memuliakan seorang lelaki yang bakal menjadi suamiku untuk menerima hati dan perasaanku yang suci. Bukan hati yang menjadi labuhan lelaki lain. Engkau berhak mendapat kasih yang tulen.
Diriku yang memang lemah ini telah diuji oleh Allah saat seorang lelaki ingin berkenalan denganku. Aku dengan tegas menolak, berbagai macam dalil aku kemukakan, tetapi dia tetap tidak berputus asa.
Aku merasa seolah-olah kehidupanku yang tenang ini telah dirampas dariku. Aku bertanya-tanya adakah aku berada di tebing kebinasaan? Aku beristigfar memohon ampunan-Nya. Aku juga berdoa agar Pemilik Segala Rasa Cinta melindungi diriku dari kejahatan.
Kehadirannya membuatku banyak memikirkan tentang dirimu. Kau kurasakan seolah-olah wujud bersamaku.
Di mana saja aku berada, akal sadarku membuat perhitungan denganmu. Aku tahu lelaki yang menggodaku itu bukan dirimu. Malah aku yakin pada gerak hatiku yang mengatakan lelaki itu bukan teman hidupku kelak.
Aku bukanlah seorang gadis yang cerewet dalam memilih pasangan hidup. Siapalah diriku untuk memilih permata sedangkan aku hanyalah sebutir pasir yang wujud di mana-mana.
Tetapi aku juga punya keinginan seperti wanita yang lain, dilamar lelaki yang bakal memimpinku ke arah tujuan yang satu.
Tidak perlu kau memiliki wajah setampan Nabi Yusuf Alaihisalam, juga harta seluas perbendaharaan Nabi Sulaiman Alaihisalam, atau kekuasaan seluas kerajaan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wassalam, yang mampu mendebarkan hati jutaan gadis untuk membuat aku terpikat.
Andainya kaulah jodohku yang tertulis di Lauh Mahfuz, Allah pasti akan menanamkan rasa kasih dalam hatiku juga hatimu. Itu janji Allah.
Akan tetapi, selagi kita tidak diikat dengan ikatan yang sah, selagi itu jangan dibazirkan perasaan itu karena kita masih tidak mempunyai hak untuk membuat begitu.
Juga jangan melampaui batas yang telah Allah tetapkan. Aku takut perbuatan-perbuatan seperti itu akan memberi kesan yang tidak baik dalam kehidupan kita kelak.
Permintaanku tidak banyak. Cukuplah engkau menyerahkan seluruh dirimu pada mencari redha Illahi.
Aku akan merasa amat bernilai andai dapat menjadi tiang penyangga ataupun sandaran perjuanganmu.
Bahkan aku amat bersyukur pada Illahi kiranya akulah yang ditakdirkan meniup semangat juangmu, mengulurkan tanganku untukmu berpaut sewaktu rebah atau tersungkur di medan yang dijanjikan Allah dengan kemenangan atau syahid itu.
Akan kukeringkan darah dari lukamu dengan tanganku sendiri. Itu impianku. Aku pasti berendam airmata darah, andainya engkau menyerahkan seluruh cintamu kepadaku.
Cukuplah kau mencintai Allah dengan sepenuh hatimu karena dengan mencintai Allah, kau akan mencintaiku karena-Nya. Cinta itu lebih abadi daripada cinta biasa. Moga cinta itu juga yang akan mempertemukan kita kembali di syurga.
Seorang gadis yang membiarkan dirinya dikerumuni, didekati, diakrabi oleh lelaki yang bukan muhrimnya, cukuplah dengan itu hilang harga dirinya di hadapan Allah. Di hadapan Allah. Di hadapan Allah.
Yang dicari walau bukan putera raja, biarlah putera Agama.
Yang diimpi, biarlah tak punya rupa, asal sedap dipandang mata.
Yang dinilai, bukan sempurna sifat jasmani, asalkan sihat rohani dan hati.
Yang diharap, bukan jihad pada semangat, asal perjuangannya ada matlamat.
Yang datang, tak perlu rijal yang gemilang, kerana diri ini serikandi dengan silam yang kelam.
Yang dinanti, bukan lamaran dengan permata, cukuplah akad dan janji setia.
Dan yg akan terjadi, andai tak sama dgn kehendak hati, insyaAllah ku redha ketetapan Illahi..
Wahai wanita, ku ingatkan diriku dan dirimu, peliharalah diri dan jagalah kesucian.. semoga redha Allah akan sentiasa mengiringi dan memberkati perjalanan hidup ini.

Muslimin Bantu Kami Mencari Erti Solehah.....


Gerak langkahmu memikat hati,                                                                                                                                                                            
Lirik senyummu manis sekali,
Namun ini aku menyedari,
Ia adalah ranjau berduri.
Senyumanmu itu racun berbisa,
Mengugat naluri menggoda jiwa,
Walau rupamu amat menawan,
Namun ku tetap pilih yang beriman.
Ranjau Menawan - NowSeeHeart
Dahulu muslimat mungkin merupakan cabaran yang besar yang dapat meruntuhkan keimanan seorang muslimin. Namun hari ini, ketahuilah wahai muslimin, anda merupakan cabaran yang besar bagi muslimat dalam memagari diri di dalam rumah 'solehah'. Saban hari ada sahaja penjaja-penjaja cinta yang melalui halaman rumah 'solehah' ini, yang membuatkan kadang-kadang, muslimah ini teruja untuk melihat 'apakah yang dijual mereka?'.
Ketahuilah wahai muslimin,
Kami memagari diri kami,
Agar kamu (wahai muslimin) dapat istiqamah dalam perjuanganmu,
Kami mengeraskan kelembutan kami,
Agar kamu mampu fokus dalam gerak langkahmu,
Kami lari dari fitrah azali kami,
Agar tidak terganggu imanmu,
Namun mengapa kamu masih mengusik hati serta keimanan kami?
Sedang kita perlu saling bantu-membantu dalam menjaga iman masing-masing.
Agar gerak kerja kita dalam perjuangan ini tidak terganggu. Sekiranya kamu sering menganggu iman kami, maka kelemahan kami yang terserlah pula akan menganggu imanmu. Dan akhirnya kita bersama-sama jatuh ke tempat yang binasa. Na'uzubilahi min zalik!
Apabila kamu melihat ada muslimat yang solehah, atau yang sedang mengadaptasi sifat 'solehah' dalam diri. Jangan kamu ganggu mereka dengan kata-kata manismu, jangan kamu ganggu iman mereka dengan menguji sejauh mana tahap 'solehah' mereka. Apakah kamu tegar kehilangan bunga-bunga 'solehah' yang bakal mengindahkan dunia Islam ini?.
Kami sendiri pelik, apabila ada muslimin yang mengirimkan article tentang 'ikhtilat', sebagai peringatan buat muslimat. Tetapi kemudiannya muslimin itu sendiri menghantar mesej,
'Hati-hati ye balik, kalau terjatuh,bangun sendiri, hehe'.
Atau mungkin apa sahaja perbuatan atau perkataan yang boleh mengundang dosa. Jangan menipu diri sendiri muslimin hanya dengan bertopengkan ilmu kepalsuan.
"Owh maksud saya tu, jaga diri. Awak  Jangan su'uzhon",
"Saya tak nak lah rasa muamalat ni  terlalu formal kita biasa-biasa je "
Apa sebenarnya yang kamu (wahai muslimin) cari?
Kamu mahu kami menjadi muslimah solehah, tapi kamu tidak membantu kami ke jalan itu,
Malah kamu sering menganggu 'perhatian' kami.
Atau mungkin kamu ingin kami jadi muslimah yang hipokrit? Di depan semua orang, ikhtilah, aurat, ibadah semua dijaga,
Tetapi di belakang orang,kami hanya memiliki abu-abu iman yang ringan, yang tidak berguna.
Ketahulah wahai muslimin,
Kita memerlukan kekuatan satu sama lain,
Dalam memangkin perjuangan ini,
Jika salah satu dari kita lemah dalam mempertahankan iman,
Ia akan memberi kesan kepada keduanya.
ketahuilah wahai muslimin
kami ingin menjadi isteri yang solehah, juga ibu yang dapat menjadi qudwatun hasanah,
Bagi melahirkan mujahid dan mujahidah,
kami memerlukan seorang suami yang soleh sebagai ketua keluarga,
Jadikan kami ini selayaknya untuk kamu,
Dan kamu selayaknya untuk kami.
Muslimat- perempuan
Muslimin- lelaki
Ikhtilat - perhubungan lelaki dan perempuan
su'uzhon- bersangka buruk

Harga Sehelai Tudung Labuh...........


Dia menangis tersedu dalam dakapanku.
"Kalaupun saya salah, tak boleh ke mereka tegur depan-depan? Kenapa perlu cakap-cakap kat belakang".
Aku mengusap lembut belakangnya, cuba menenangkan.
"Saya rasa saya ni macam jahat sangat, saya tak tahu pun mereka tak suka dengan sikap-sikap saya". "Saya rasa macam semua orang tak suka saya, cakap buruk tentang saya saya kat belakang", tangisnya makin menjadi-jadi, tak pernah aku lihat dia menangis sebegitu kerana dia biasanya hanya suka berdiam dan memendam, susah meluahkan perasaan.
"Mereka kata macam-macam, saya ni pakai je tudung labuh, bawa imej Islam tapi perangai tak macam orang tudung labuh. Salah ke saya menegur kalau saya nampak mereka buat perkara tak betul? Memang saya akui saya agak tegas dan berterus terang, tapi saya bukan nak malukan mereka. Saya tahu saya tak sempurna, saya bukan budak sekolah agama, banyak lagi ilmu saya tak tahu. Mereka kata masa saya tak pakai tudung labuh dulu, saya tak macam ni", rintihnya lagi.
Aku biarkan saja dia terus meluahkan apa yang terbuku di hatinya, biar dia lega. Aku leraikan pelukannya, namun terus mengelus lembut bahunya, mudah-mudahan dia diberi kekuatan.
"Awak menyesal pakai tudung labuh?", aku meneka. Dia hanya membisu. Dikesatnya air jernih yang turun melaju dari tubir matanya. Aku dapat mengagak jawapan disebalik kebisuannya. "Awak berputus asa nak menegur mereka lagi?", saya terus menduga.
"Buat apa nak tegur lagi, kalau tegur pun akhirnya saya yang kena kutuk", perlahan dia menjawab dalam sedu sedannya.
"Awak, Allah nak uji awak hari ini. Inilah harga tudung labuh yang kita pakai, inilah harga yang kita terpaksa bayar. Siapa kata pakai tudung labuh senang? Tak mudah seperti yang mereka nampak.Bila dah bertekad untuk pakai tudung labuh, kita kena siapkan juga fizikal, mental dan hati kita, kena kuat, kena tahan dengan cabaran. Dan inilah antara ujiannya. Bilamana kita orang yang bertudung labuh buat silap, terus dikaitkan dengan agama. Bahkan kita ni jadi perhatian di mana-mana. Pada mereka, kita kena jadi sempurna, kena tahu semua ilmu agama, dan tak boleh buat silap sikit pun. Sedangkan, kita juga manusia, manusia yang banyak sangat kelemahan", saya bersuara sambil memandang tepat ke wajahnya yang sugul.
"Jangan pernah menyesal dengan diri awak, tudung awak. Jangan kerana masalah sekecil ini, awak dah mengalah. Ujian ni banyak sangat hikmahnya untuk awak. Allah nak ajarkan tentang sesuatu kepada awak. Sebelum ini awak mungkin tak pernah rasai ujian bila bertudung labuh, awal-awal dulu, semua menyokong, memuji dan beri galakan. Jadi mungkin awak tak terkesan sangat dengan istimewanya diri awak sekarang. Bila Allah datangkan ujian macam ni, baru kita akan rasai, betapa tak mudah sebenarnya, bersama tudung yang kita pakai, ada tanggungjawab besar yang kita bawa bersama. Tanggungjawab untuk memegang amanah membawa imej Islam, tanggungjawab memperbaiki diri, biar dalaman kita secantik luaran, akhlak kita indah sebagaimana tudung kita, tanggungjawab mempersiapkan diri dengan ilmu, kerana wanita seperti kita selalu jadi tumpuan bila sahabat-sahabat ada permasalahan agama. Jangan anggap ia sebagai beban, anggap ia sebagai keistimewaan, yang Allah bagi hanya khas kepada insan-insan yang Dia pilih. Nah, betul kan, bertudung labuh tak semudah yang disangka? Hanya yang betul kental saja dapat terus istiqamah dengannya, dan yang istiqamah dalam mengharapkan keredhaan Allah, bukan kah mendapat tempat istimewa di sisiNya? Awak tak nak jadi terkenal pada padangan Allah dan penduduk langit? Awak dah nak berputus asa?" Aku menduga.
Melihat dia terus membisu, aku bersuara lagi.
"Begitu juga, ujian ini mungkin nak menyedarkan sesuatu tentang dakwah yang berhikmah. Dulu kita biasa saja dengarkan, kat mana-mana ustaz cakap, dalam mana-mana buku yang kita baca, dakwah mesti berhikmah. Jadi sekarang Allah ajar awak bukan teori saja apa itu dakwah berhikmah, tapi juga praktikalnya sekali. Bagaimana dakwah berhikmah? Mesti kena caranya, tempatnya, sesuai perkataanya, tidak melukakan, tidak menyebabkan kemarahan orang yang kita nasihatkan. Bagaimana kalau dakwahnya tidak berhikmah? Maka jadilah, dakwah kita tak berkesan, mad'u kita terasa jauh hati dengan nasihat kita, dan akhirnya keluar lah cakap-cakap belakang macam yang awak alami. Jadi, awak jelaskan? Kenapa bersungguh benar Allah dan rasul minta kita berdakwah secara berhikmah. Dan mungkin Allah nak tegur, cara awak, Allah nak awak perbetulkan kaedah dakwah yang awak guna, Allah nak kata, salah tu, kena perbaiki. Salahkah Allah tegur? Tak salah, kan. Allah tegur sebab Allah sayang, Allah tegur sebab nak bagi kekuatan, Allah tegur supaya kerja-kerja ini dapat awak laksanakan dengan lebih berkesan. Bila berdakwah, kita berhadapan dengan macam-macam ragam orang. Ada yang sensitif, ada yang terbuka, jadi kena bijak kita sesuaikan. Dai'e yang kental, takkan putus asa, sebab dia tahu, dakwah adalah kewajipan, bukan pilihan."
"Lagi, apa Allah nak bagitahu awak? Terasa sangat sakit dan terluka bila kita jadi bahan umpatan, kejian dan kelemahan kita dibicarakan kat belakang, kan? Jadi bila kita tahu sakitnya macam ni, kita jangan sesekali buat perkara sama kepada sahabat kita sebab kita dah tahu betapa pedihnya, betapa peritnya akibat daripada perbuatan ni. Boleh lukakan hati orang, boleh menyebabkan permusuhan juga. Bila ada apa-apa yang perlu ditegur, dinasihati, jumpa sahabat kita sendiri, cakap secara jujur dan ikhlas, insyaAllah semua orang suka kalau kelembutan digunakan, cepat meresap. Kalau pun dia mungkin tak dapat terus berubah, sekurang-kurangnya dia tak terasa hati, dan tak ada permusuhan antara kita."
"Awak, walaupun awak rasa ujian ni sangat menyakitkan hari ni, tapi saya tak tengok satu pun perkara buruk yang Allah maksudkan terhadap awak. Semuanya ada hikmah yang sangat indah.Kenapa teguran Allah ini begitu perit, sakit? Sebab Allah nak kita ingat, sebab yang menyakitkan tu lebih lekat dalam ingatan kita, kalau ujian tu senang, mungkin kita tak hargainya. Allah nak kejutkan kita, mungkin Allah terpaksa 'menyergah' kita dengan kuat."
Sedu-sedannya telah reda, Ya Allah semoga kekalutan jiwa dia juga begitu.
"Habis, apa saya kena buat?", tanyanya.
"Sekarang awak perlu sujud taubat kepada Allah, minta keampunanNya, mungkin ada kesilapan yang awak tak sedari, bersyukur padaNya sebab menegur awak dengan ujian begini. Kemudian pergilah jumpa sahabat-sahabat yang terasa dengan awak tu, minta maaf. Sekarang tak timbul isu siapa bersalah pada siapa dulu, tapi yang sebaik-baiknya adalah leraikan permusuhan, minta dan beri kemaafan." jawabku.
Dia menggenggam tanganku erat, "Terima kasih sahabat".
"Allah yang sedang memujuk awak, saya pelakon tambahan saja, tapi saya bersyukur, Allah kurniakan anugerah pengajaran yang tak ternilai untuk saya hari ni. Terima kasih ya Allah, terima kasih pada awak juga." Hatiku tenang, moga Allah memberi dia ketenangan yang sama.
Sahabat, walau siapa pun kita, bertudung labuh, tudung biasa, atau yang tidak bertudung sekalipun, kita SEMUA adalah manusia biasa, yang lemah, ada cacat celanya.
Sekiranya ada sahabat kita terlalai, terlupa, tolonglah ingatkan dia dengan sebaik cara.
Dan yang paling utama, setiap apa saja ujian yang mendatangi kita, berbaik sangkalah pada Allah. Bertenang, dan fikirkan hikmahnya dengan rasional. InsyaAllah, pasti dan pasti Allah tidak akan pernah menzalimi kita.